Minggu, 17 April 2011

SUSU SEGAR, LEBIH BAIK dari pada SUSU BUBUK

   “Lebih dari 80% warga dunia mengkonsumsi susu dalam bentuk segar, yang Indonesia dipastikan tidak masuk di dalamnya. Masyarakat Indonesia jauh lebih mengenal susu olahan, berupa bubuk atau kental manis.” Demikian komentar Dedi Setiadi, Ketua Umum GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) ditemui TROBOS di Bandung Juni lalu. Fakta ini disesalkan Dedi, dan menurutnya harus diluruskan. Pasalnya, mengkonsumsi susu segar bisa dipastikan memberikan keuntungan yang lebih baik ketimbang susu olahan. Ia beralasan, dari asalnya susu diciptakan dengan keunggulan kaya nutrisi yang tidak dimiliki pangan lainnya, sehingga dengan manipulasi berlebihan justru beberapa manfaat akan tereduksi.
   
Karena sudah melalui tahapan proses yang cukup panjang, antara lain evaporasi, homogenisasi dan pengeringan (spray drying atau freeze drying), kandungan nilai gizi yang terdapat dalam susu bubuk lebih rendah dari susu cair segar. Sebagai usaha untuk ‘mengembalikan’ kadar nilai gizinya agar menyamai gizi susu cair segar, seringkali susu bubuk ditambahi dengan bahan-bahan lain, misalnya vitamin. (www.ibudananak.com)
  Menurut Prof. Made Astawan, pakar teknologi pangan dan gizi Fakultas Teknologi Pertanian IPB Memang susu bubuk itu sendiri asalnya juga dari susu segar atau rekombinasi dengan zat lain seperti lemak, dan protein yang dikeringkan.
   Namun proses pengolahan susu bubuk yang umumnya melalui pengeringan dengan waktu yang cukup lama sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan gizi terutama vitamin dan protein. Menurut Astawan kerusakan protein bisa berupa terbentuknya pigmen coklat (melonodin) akibat reaksi Maillard. Reaksi ini biasanya terlihat pada pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula dan protein susu akibat proses pemanasan yang berlangsung cukup lama. Pemanasan seperti dapat menyebabkan penurunan daya cerna protein.
Pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu lama juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino, yaitu perubahan konfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Padahal tubuh manusia hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L.
Karena itulah banyak ahli gizi dunia yang menyarankan agar kembali mengkonsumsi susu secara alamiah atau susu segar. Minum susu segar adalah pilihan paling tepat untuk mendapatkan kesempurnaan manfaat dari segelas susu. 

Tingkat Konsumsi Susu :
Indonesia  : 10,4 ltr per orang per tahun
Vietnam   : 12 liter per orang per tahun
Filipina     : 12,1 liter per orang per tahun
Malaysia   : 27 liter per orang per tahun
Jepang      : 38 liter per orang per tahun
India         : 42,8 liter per orang per tahun
AS            : 83,9 liter per orang per tahun
Belanda   : 120 liter per orang per tahun
Disadur dari Media Indonesia,  Antara News, TV one, sabtu 30 okt 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar